Rabu, 16 Maret 2011

Download Mp3 Wayang Golek Kumbakarna Gugur


Kumbakarna Gugur bercerita tentang keserakahan dan patriotisme. Diceritakan tentang Kumbakarna yang dipanggil Prabu Rahwana untuk ikut berperang dengan Batara Rama. Konflik batin menggumpal di dada Kumbakarna karena di satu sisi ia tidak setuju harus membela keserakahan kakaknya, dan di sisi lain ia harus membela negaranya. Tak hanya itu, konflik bathin Kumbakarna semakin genting ketika ia tahu bahwa adiknya, Gunawan Wibisana, memilih ikut ke dalam barisan tentara Sri Rama. Bagaimana cerita seru selengkapnya, silakan download cerita Kumbakarna Gugur dalam format MP3- sebuah kisah heroisme yang mengharu-biru, digalo dengan bodor si cepot yang khas. Untuk Lebih Jelasnya Silahkan Di download Dan Selamat Mendengarkan.Kumbakarna Gugur (Pagelaran Wayang Golek bahasa Sunda) Dalang: Asep Sunandar Sunarya
Kumbakarna Gugur 1A
Kumbakarna Gugur 1B
Kumbakarna Gugur 2A
Kumbakarna Gugur 2B
Kumbakarna Gugur 2C
Kumbakarna Gugur 3A
Kumbakarna Gugur 3B
Kumbakarna Gugur 3C
Kumbakarna Gugur 4A
Kumbakarna Gugur 4B

Rabu, 09 Maret 2011

Ciri ciri jangjawokan

Jangjawokan menurut Wahyu Wibisana memiliki ciri-ciri, yakni : menyebutkan nama kuasa imajiner, seperti : Pohaci Sanghiyang Asri, Batara, Batari dll. dalam kalimat atau frase yang menyatakan si pengucap janjawokan berada pada posisi yang lebih kuat, otomatis berhadapan dengan pihak yang lemah. berhubungan dengan konsvensi puisi, merupakan kelanjutan dari gaya Sastra Sunda Buhun dan cerita Pantun, yakni adanya desakan atau perintah, disamping himbauan, tegasnya bersifat imperative dan persuasif. masih berhubungan dengan konvensi puisi, adanya rima-rima dalam jangjawokan. Rima-rima dimaksud memiliki fungsi estetis ; membangun irama ; fungsi magis ; fungsi membuat ingatan orang yang mengucapkan. adanya lintas kode bahasa pada ajimantra yang hidup di Priangan dan Baduy. Bahasa jangjawokan tersebut diserap seutuhnya atau disesuaikan dengan lidah pengucapnya. terkesan sebagai sastra arkais yang pernah muncul kemudian setelah sastra sunda. Ciri-ciri diatas tentunya dilihat dari katagori Jangjawokan sebagai bagian dari puisi arkais sunda. Jadi wajar jika ada tekanan tujuan dari materi jangjawokan ; gaya sastra dan gaya bahasa ; rima-rima ; dan kelahirannya paska sastra sunda. Penyebutan Kuasa Imajiner Pengertian imajiner berpusat pada pemikiran yang berhubungan dengan makhluk gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan dan kewenangan dan berada di tempat tertentu. Pada tataran keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan cara tertentu, kekuasaan dan kewenangan makhluk gaib itu dapat dimanfaatkan manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya, sebagaimana dalam Jangjawokan. Nama-nama kuasa imajiner yang dimaksudkan tentunya sangat terkait dengan istilah-istilah yang digunakan urang Sunda Buhun. Seperti Pohaci Sanghyang Asri ; Batara dan Batari ; Sri Tunggal Sampurna ; Malaikat Incer Putih ; Raden Angga Keling ; Ratu Teluh ti Galunggung ; Sang Ratu Babut Buana. Penyebutan kuasa imajiner tersebut, seperti contoh dibawah ini :
Jampe Masamoan
Nu ngariung jiga lutung Nu ngarendeng jiga monyet Nya aing mandahna ! Maung pundung datang turu Badak galak datang depa Galudra di tengah imah Kakeureut kasieup ku pohaci awaking.
Jampe masamoan diatas bertujuan agar memiliki kekuatan yang tersinari pohaci yang ada didalam dirinya. Bahkan ada semacam perintah bathin kepada siapapun yang ada ditempat pasamoan tersebut untuk tunduk dan menerima kehadirannya. Mungkin juga dapat ditafsirkan adanya perintah bathin orang yang hendak bertamu kepada bathin pihak"nu dipasamoan'. Contoh perintah bathin ini dapat dilihat dari asihan asihan seperti dibawah ini, sebagai berikut :
Ka Indung anu ngandung Ka Rama anu ngayuga Ka Indung nu teu ngandung Ka Rama anu teu ngayuga kadulur opat kalima pancer Pang nepikeun ieu hate Ka Indung na anu ngandung Ka Rama na anu ngayuga Ka Indung na nu teu ngandung Ka Rama na anu teu ngayuga Kadulur na opat kalima pancer Kalawan kanu ngurus ngaluis hirup jeung huripna... (sianu)....... Pamugi sing..........
Jangjawokan diatas terasakan adanya perintah bathin (rasa) dari pembaca jangjawokan kepada bathin (rasa) orang yang dituju untuk melaksanakan apa yang dikehendakinya. Perintah dan urusan koridor bathin ini sangat nampak ketika pemohon memerintahkan bathinnya untuk menyampaikan kepada bathin tujuannya. Seperti ada eksistensi indung dan bapak anu ngandung kalawan nu teu ngandung. Kemudian disebut pula eksistensi dari saudara yang empat dan pancernya. Dalam konteks yang sama ditemukan pula istilah-istilah spiritual yang lajim digunakan orang sunda penganut agama islam. Sehingga kuasa imajiner jika ditafsirkan sebagai sesuatu yang gaib atau makhluk terasa menjadi rancu jika kita membaca jangjawokan seperti dibawah ini.
Jampe Unggah Ashadu sahadat bumi Ma ayu malebetan Bumi rangsak tanpa werat Lan tatapakan ing Muhammad Birahmatika ya arohmana rohomin Jampe Turun Allohuma ibu bumi Medal tapak tatapakan Turun wawayanging ing Muhamad Birahmatika ya arohma rohimin.
Jika saja ditelaah lebih lanjut dari kedua jangjawokan terakhir, saya sendiri menjadi maklum, bahwa permohonan bathin kepada sesuatu "Yang Gaib" dimintakan ijin terlebih dahulu kepada "Yang Maha Gaib", atau dapat juga disimpulkan bahwa atas kehendak yang Maha Gaib maka Yang Gaib itu bisa diperintahkan. Istilah "Nu Gaib" disini tentunya menimbulkan pertanyaan, Nu Gaib anu mana ?. Mungkin alangkah lebih bijaknya jika mendefinisikan jangjawokan dengan cara menggunakan paradigma dari para penggunanya, yakni masyarakat Sunda Buhun. Dalam paradigma masyarakat Sunda Buhun, terutama ketika mengkaji dan menemukan sejarah diri akan terungkap ada tiga unsur yang menyebabkan manusa hirup jeung hurip, yakni unsur lahir (raga) ; bathin (hidup) dan kuring (aku). Kuring atau aku bertindak sebagai driver bagi lahir dan bathin, bagi raga jeung hirupna. Aku pula yang memanaje raga dan bathin. Dari paradigma tersebut tentunya dapat disimpulkan, bahwa nu gaib itu bukan sesosok makhluk yang ada diluar dirinya, melainkan nu ngancik dina dirina. Pemberi perintah Dalam jangjawokan, si pengguna bertindak sebagai pemberi perintah bathin, paling tidak sebagai pihak yang 'menginginkan' sesuatu. Oleh para sastrawan diposisikan sebagai pihak yang lebih kuat terhadap penerima perintah. Misalnya : Nu ngariung jiga lutung Nu ngarendeng jiga monyet Nya aing mandahna .............. kakeureut ka sieup ku pohaci awaking Atau : Curuk aing curuk angkuh Bisa ngangkuh putra ratu ...... mangka reret soreang soreang ka badan awaking Sipemberi perintah tidak selamanya memposisikan diri yg lbh kuat

Ajimantra atawa Jangjawokan

Seureuh seuri Pinang nanggeng Apuna galugaet angen Gambirna pamuket angen Bakona galuge sari Coh nyay, parupat nyay, loeko lenyay Cucunduking aing taruk harendong Cucunduking aing taruk paku hurang Keuna asihan awaking Asihan si leuget teureup
Kalimat diatas merupakan jangjawokan yang biasa digunakan urang sunda buhun ketika hendak nyepah (nyeupah), digerenteskeun atau di ucapkan dalam hati. Jangjawokan digunakan pada setiap kali kegiatan, bahkan menjadi tertib hidup. Misalnya untuk bergaul, bekerja sehari-hari, dan berdoa. Laku demikian dimungkinkan karena faktor masyarakat Sunda yang agraris selalu menjaga harmonisasi dengan alam. Konon pula seluruh nu kumelendang dialam dunya dianggap memiliki jiwa. Tertib dan krama hidup misalnya berhubungan dengan padi (beras). Ada jangjawokan yang digunakan sejak menanam bibit, ngaseuk, tandur, panen, nyiuk beas, nyangu, mawa beas ticai, ngisikan, seperti salah satu contoh dibawah ini : Jampe Nyimpen Beas Mangga Nyi Pohaci Nyimas Alame Nyimas Mulang Geura ngalih ka gedong manik ratna inten Abdi ngiringan.Ashadu sahadat panata, panetep gama Iku kang jumeneng lohelapi Kang ana teleking ati Kang ana lojering Allah Kang ana madep maring Allah Iku wuju salamaet ing dunya Salamet ing akherat Asahadu anla ila haileloh Wa ashadu anna Muhammaddarrasolullah Abdi seja babakti kanu sakti, agung tapa Nyanggakeun sangu putih sapulukan Kukus kuning purba herang Tuduh kang seseda tuhu Datang ka sang seda herang Tepi ka kang seda sakti Nu sakti neda kasakten Neda deugdeugan tanjeuran> Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya pada masyarakat sunda, Dan Inilah contoh tertib hidup masyarakat agraris yang menciptakan harmonisasi adapt dengan alam. Para Sastrawan Sunda pada umumnya, seperti Wahyu Wibisana, Rus Rusyana, Ajip Rosidi menggolongkan Jangjawokan sebagai bentuk puisi sunda. Yus Rusyana menuangkannya dalam buku Bagbagan Puisi Mantra Sunda (1970), sedangkan Ajip Rosidi dalam Jangjawokan (1970). Tentunya lepas dari benar atau salah tentang pemahaman masing-masing terhadap jangjawokan, namun dengan cara katagorisasi menjadi cabang dari puisi, paling tidak dapat terkabarkan kegenarasi berikutnya, bahwa di tatar ini pernah ada bagian dari budaya Sunda yang disebut Jangjawokan. Menurut Wahyu Wibisana : jangjawokan sejalan dengan maksud puisi magis yang dikemukakan Yus Rusyana dan pendapat Rachmat Subagya pada Agama Asli Indonesia. Dengan mantra orang berangsur-angsur memulangkan kuasa-kuasa imajiner yang dianggap melanggar atas wewenangnya yang imajiner kepada tempat asal wajar mereka yang imajiner juga. Pengertian imajiner berpusat pada pemikiran yang berhubungan dengan makhluk gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan dan kewenangan dan berada di tempat tertentu. Dengan demikian, hal ini ada pada tataran keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan cara tertentu, kekuasaan dan kewenangan makhluk gaib itu dapat dimanfaatkan manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya. Cara itulah dengan menggunakan mantra serta segala ketentuannya. Mengapa Istilah Jangjawokan ? Wahyu Wibisana dalam SASTRA LAGU : Mencari Hubungan Larik dan Lirik menjelaskan : Dua buah bentuk puisi sunda yang dapat dikatakan bersifat arkais ialah ajimantra dan bentuk puisi pada cerita pantun. Istilah ajimantra diambil dari naskah kuno Siksa Kandang Karesyan. Sedangkan puisi pada pantuan ada tahun 1518, sama artinya dengan istilah mantra sekarang. Sedangkan puisi pada cerita pantun ada dua yakni rajah dan nataan". Jangjawokan suatu arti kata lain dari ajimantra. Istilah ajimantra digunakan dalam Naskah Siksa Kanda Ng Karesyan, ditulis pada tahun 1518 M. Tapi istilah Jangjawokan tidak diketahui sejak kapan. Namun Urang Sunda Tradisional lebih banyak menggunakan istilah Jangjawokan atau ajian ketimbang ajimantra. Mungkin kedua sebutan yang memiliki kesaman makna ini menandakan adanya adaptasi pemahaman, menganggap Jangjawokan (Sunda Buhun) eufimisme dari ajimantra (Sanksekerta). Ajip Rosidi dalam buku Jangjawokan lebih menekankan pada istilah ini ketimbang mengguna kan kalimat ajimantra, dengan alasan : Istilah ajimantra berasal dari India dan dalam bahasa Sunda tidak pernah digunakan. Dilihat dari segi isinya, Jangjawokan itu berupa permintaan atau perintah agar keinginan sipengguna jangjawokan dilaksanakan oleh nu gaib "makhluk gaib". Tapi tanpa mengoreksi paradigma diatas, timbul pertanyaan, apakah benar Jangjawokan itu ajimantra yang dimintakan kepada Makhluk Gaib ?. Adaptasi bahasa atau keyakinan ? Sebenarnya untuk mentraslate makna tujuan permohonan dari pelaku jangjawokan mungkin dapat juga ditelusuri melalui penelusuran pemahaman tentang Hyang Tunggal ; Hyang Keresa atau Ketuhanan Yang Maha Esa serta sejarah diri dalam Paradigma Sunda. Karena pemahaman istilah nu gaib tidak selamanya berkonotasi pada makhluk gaib, seperti jin atau makhluk halus, akan tetapi ada juga semacam cara membangkitkan spiritulitas dalam dirinya, seperti paradigma tentang raga ; bathin dan kuring. Negasi terhadap paradigma diatas dapat dicontohkan, sebagai berikut :. Ka Indung nu ngandung Ka Rama nu ngayuga Ka Indung nu teu ngandung Ka Rama nu ngayuga Kadulur opat kalima pancer Pangnepikeun ieu hate Ka Indungna anu nagnadung Ka Ramana anu ngayuga Ka Indungna nu teu ngandung Ka Ramana nu ngayuga Kadulur opat kalima pancer Kalawan kanu ngurus jeung ngaluis si.... (anu)...... Dst... dst.......

Selasa, 01 Maret 2011

Paribasa Sunda

Paribasa atau pepatah yang sudah diinformasikan secara lisan turun temurun dari para leluhur (karuhun) untuk bekal menjalani kehidupan.
1. Hubungan Dengan Sesama Mahluk
* Ngeduk cikur kedah mihatur nyokel jahe kedah micarek (Trust - ngak boleh korupsi, maling, nilep, dlsb... kalo mo ngambil sesuatu harus seijin yg punya).
* Sacangreud pageuh sagolek pangkek (Commitment, menepati janji & consitent).
* Ulah lunca linci luncat mulang udar tina tali gadang, omat ulah lali tina purwadaksina (integrity harus mengikuti etika yang ada).
* Nyaur kudu diukur nyabda kudu di unggang (communication skill, berbicara harus tepat, jelas, bermakna.. tidak asbun).
* Kudu hade kokod hade tagog (harus dijaga agar punya performance yg baik dan harus konsitent dengan perilakunya, dlsb).
* Kudu silih asih, silih asah jeung silih asuh (harus saling mencintai, memberi nasihat dan mengayomi).
* Pondok jodo panjang baraya (siapapun walopun jodo kita tetap persaudaraan harus tetap dijaga).
* Ulah ngaliarkeun taleus ateul (jangan menyebarkan isu hoax, memfitnah, dlsb).
* Bengkung ngariung bongok ngaronyok (team works & solidarity dalam hal menghadapi kesulitan/ problems/ masalah harus di solve bersama).
* Bobot pangayun timbang taraju (Logic, semua yang dilakukan harus penuh pertimbangan fairness, logic, common sense, dlsb)
* Lain palid ku cikiih lain datang ku cileuncang (Vision, Mission, Goal, Directions, dlsb... kudu ada tujuan yg jelas sebelum melangkah).
* Kudu nepi memeh indit (harus tiba sebelum berangkat).
* Taraje nangeuh dulang pinande (setiap tugas harus dilaksanakan dengan baik dan benar).
* Ulah pagiri- giri calik, pagirang- girang tampian (jangan berebut kekuasaan).
* Ulah ngukur baju sasereg awak (Objektivitas, jangan melihat dari hanya kaca mata sendiri).
* Ulah nyaliksik ku buuk leutik (jangan memperalat yang lemah/ rakyat jelata).
* Ulah keok memeh dipacok (Ksatria, jangan mundur sebelum berupaya keras).
* Kudu bisa kabulu kabale (Gawul, kemana aja bisa menyesuaikan diri).
* Mun teu ngopek moal nyapek, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih (Research & Development, Ngulik, Ngoprek, segalanya harus pakai akal dan harus terus di ulik, di teliti, kalo sudah diteliti dan dijadikan sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan).
* Cai karacak ninggang batu laun laun jadi dekok (Persistent, keukeuh, semangat pantang mundur).
* Neangan luang tipapada urang (Belajar mencari pengetahuan dari pengalaman orang lain).
* Nu lain kudu dilainkeun nu enya kudu dienyakeun (speak the truth nothing but the truth).
* Kudu paheuyeuk- heuyeuk leungeun paantay-antay tangan (saling bekerjasama membangun kemitraan yang kuat).
* Ulah taluk pedah jauh tong hoream pedah anggang jauh kudu dijugjug anggang kudu diteang (maju terus pantang mundur).
* Ka cai jadi saleuwi kadarat jadi salogak (Kompak/ team work).
2. Hubungan Dengan Tuhan (Yang Maha Kuasa)
* Mulih kajati mulang kaasal (semuanya berasal dari Yang Maha Kuasa yang maha murbeng alam, semua orang akan kembali keasalnya).
* Dihin pinasti anyar pinanggih (semua kejadian telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa yang selalu menjaga hukum-hukumnya).
* Melak cabe jadi cabe melak bonteng jadi bonteng, melak hade jadi hade melak goreng jadi goreng (Hukum Yang Maha Kuasa adalah selalu menjaga hukum-2nya, apa yang ditanam itulah yang dituai, kalau kita menanam kebaikan walaupun sekecil elektron tetep akan dibalas kebaikan pula, kalau kita menanam keburukan maka keburukan pula yg didapat.
* Manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna (Gunakan akal dalam melangkah, buat apa Yang Maha Kuasa menciptakan akal kalau tidak digunakan sebagai mestinya).
* Nimu luang tina burang (semua kejadian pasti ada hikmah/ manfaatnya apabila kita bisa menyikapinya dengan cara yang positif).
* Omat urang kudu bisa ngaji diri (kita harus bisa mengkaji diri sendiri jangan suka menyalahkan orang lain)
* Urang kudu jadi ajug ulah jadi lilin (Jangan sampai kita terbakar oleh ucapan kita, misalnya kita memberikan nasihat yagn baik kepada orang lain tapi dalam kenyataan sehari- hari kita terbakar oleh nasihat-2 yang kita berikan kepada yang lain tsb, seperti layaknya lilin yang memberikan penerangan tapi ikut terbakar abis bersama api yang dihasilkan).
3. Hubungan Dengan Alam
* Gunung teu meunang di lebur, sagara teu meunang di ruksak, buyut teu meunang di rempak (Sustainable Development ~ Gunung tidak boleh dihancurkan, laut tidak boleh dirusak dan sejarah tidak boleh dilupakan... harus serasi dengan alam.).
* Tatangkalan dileuweung teh kudu di pupusti (Pepohonan di hutan ituh harus di hormati, harus dibedakan istilah dipupusti (dihormati) dengan dipigusti (di Tuhankan) banyak yang salah arti disini).
* Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak (hutan harus dijaga, sumber air harus dimaintain kalo tidak maka manusia akan sengsara).

Senin, 28 Februari 2011

Amanat Galunggung

Amanat Galunggung adalah nama yang diberikan untuk sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut, salah satu naskah tertua di Nusantara. Naskah ini ditulis pada abad ke-15 pada daun lontar dan nipah, menggunakan bahasa dan aksara Sunda Kuna. Naskah ini berisi nasihat mengenai etika dan budi pekerti Sunda, yang disampaikan Rakyan Darmasiksa, Raja Sunda ke-25, Penguasa Galunggung, kepada puteranya Ragasuci (Sang Lumahing Taman). Di Kabuyutan Ciburuy, hingga kini orang menyimpan naskah-naskah kuno. Salah satu naskah kuno yang ditemukan di kabuyutan itu-sebelum disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta-adalah "Amanat Galunggung". Nama atau judul "Amanat Galunggung" berasal dari filolog Saleh Danasasmita, yang turut mengkaji naskah tersebut, kemudian turut mengompilasikan hasil kajiannya dalam "Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung" (1987). Naskah ini menggunakan bahasa Sunda kuno dan aksara Sunda. "Amanat Galunggung" berisi ajaran moral. Dalam naskah ini antara lain disebutkan bahwa kabuyutan harus dipertahankan. Raja yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan di wilayah kekuasaannya lebih hina ketimbang kulit musang yang tercampak di tempat sampah. Dengan demikian, dalam tata politik dahulu kala, pusat-pusat kegiatan intelektual dan keagamaan rupanya memiliki kedudukan yang sangat penting. Kabuyutan tampaknya merupakan salah satu pilar yang menopang integritas negara, sehingga tempat itu dilindungi oleh raja, bahkan dianggap sakral Berikut adalah poin-poin pokok pada halaman pertama naskah tersebut: 1. harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut tanah kabuyutan (tanah yang disakralkan) 2. barang siapa yang dapat mendudukan Galunggung sebagai tanah yang disakralkan akan memperoleh kesaktian, unggul perang, berjaya dan dapat mewariskan kekayaan sampai turun temurun 3. lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada putra raja yang tidak mampu mempertahankan tanah airnya 4. jangan memarahi orang yang tidak bersalah 5. jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanah air pada jamannya.

Paling Populer

Bahasa: id I En I Ru I Sun
Online Users saungsunda.blogspot.com Google PageRankā„¢ Value from GoPageRank.com