Rabu, 09 Maret 2011

Ciri ciri jangjawokan

Bagikan :
Jangjawokan menurut Wahyu Wibisana memiliki ciri-ciri, yakni : menyebutkan nama kuasa imajiner, seperti : Pohaci Sanghiyang Asri, Batara, Batari dll. dalam kalimat atau frase yang menyatakan si pengucap janjawokan berada pada posisi yang lebih kuat, otomatis berhadapan dengan pihak yang lemah. berhubungan dengan konsvensi puisi, merupakan kelanjutan dari gaya Sastra Sunda Buhun dan cerita Pantun, yakni adanya desakan atau perintah, disamping himbauan, tegasnya bersifat imperative dan persuasif. masih berhubungan dengan konvensi puisi, adanya rima-rima dalam jangjawokan. Rima-rima dimaksud memiliki fungsi estetis ; membangun irama ; fungsi magis ; fungsi membuat ingatan orang yang mengucapkan. adanya lintas kode bahasa pada ajimantra yang hidup di Priangan dan Baduy. Bahasa jangjawokan tersebut diserap seutuhnya atau disesuaikan dengan lidah pengucapnya. terkesan sebagai sastra arkais yang pernah muncul kemudian setelah sastra sunda. Ciri-ciri diatas tentunya dilihat dari katagori Jangjawokan sebagai bagian dari puisi arkais sunda. Jadi wajar jika ada tekanan tujuan dari materi jangjawokan ; gaya sastra dan gaya bahasa ; rima-rima ; dan kelahirannya paska sastra sunda. Penyebutan Kuasa Imajiner Pengertian imajiner berpusat pada pemikiran yang berhubungan dengan makhluk gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan dan kewenangan dan berada di tempat tertentu. Pada tataran keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan cara tertentu, kekuasaan dan kewenangan makhluk gaib itu dapat dimanfaatkan manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya, sebagaimana dalam Jangjawokan. Nama-nama kuasa imajiner yang dimaksudkan tentunya sangat terkait dengan istilah-istilah yang digunakan urang Sunda Buhun. Seperti Pohaci Sanghyang Asri ; Batara dan Batari ; Sri Tunggal Sampurna ; Malaikat Incer Putih ; Raden Angga Keling ; Ratu Teluh ti Galunggung ; Sang Ratu Babut Buana. Penyebutan kuasa imajiner tersebut, seperti contoh dibawah ini :
Jampe Masamoan
Nu ngariung jiga lutung Nu ngarendeng jiga monyet Nya aing mandahna ! Maung pundung datang turu Badak galak datang depa Galudra di tengah imah Kakeureut kasieup ku pohaci awaking.
Jampe masamoan diatas bertujuan agar memiliki kekuatan yang tersinari pohaci yang ada didalam dirinya. Bahkan ada semacam perintah bathin kepada siapapun yang ada ditempat pasamoan tersebut untuk tunduk dan menerima kehadirannya. Mungkin juga dapat ditafsirkan adanya perintah bathin orang yang hendak bertamu kepada bathin pihak"nu dipasamoan'. Contoh perintah bathin ini dapat dilihat dari asihan asihan seperti dibawah ini, sebagai berikut :
Ka Indung anu ngandung Ka Rama anu ngayuga Ka Indung nu teu ngandung Ka Rama anu teu ngayuga kadulur opat kalima pancer Pang nepikeun ieu hate Ka Indung na anu ngandung Ka Rama na anu ngayuga Ka Indung na nu teu ngandung Ka Rama na anu teu ngayuga Kadulur na opat kalima pancer Kalawan kanu ngurus ngaluis hirup jeung huripna... (sianu)....... Pamugi sing..........
Jangjawokan diatas terasakan adanya perintah bathin (rasa) dari pembaca jangjawokan kepada bathin (rasa) orang yang dituju untuk melaksanakan apa yang dikehendakinya. Perintah dan urusan koridor bathin ini sangat nampak ketika pemohon memerintahkan bathinnya untuk menyampaikan kepada bathin tujuannya. Seperti ada eksistensi indung dan bapak anu ngandung kalawan nu teu ngandung. Kemudian disebut pula eksistensi dari saudara yang empat dan pancernya. Dalam konteks yang sama ditemukan pula istilah-istilah spiritual yang lajim digunakan orang sunda penganut agama islam. Sehingga kuasa imajiner jika ditafsirkan sebagai sesuatu yang gaib atau makhluk terasa menjadi rancu jika kita membaca jangjawokan seperti dibawah ini.
Jampe Unggah Ashadu sahadat bumi Ma ayu malebetan Bumi rangsak tanpa werat Lan tatapakan ing Muhammad Birahmatika ya arohmana rohomin Jampe Turun Allohuma ibu bumi Medal tapak tatapakan Turun wawayanging ing Muhamad Birahmatika ya arohma rohimin.
Jika saja ditelaah lebih lanjut dari kedua jangjawokan terakhir, saya sendiri menjadi maklum, bahwa permohonan bathin kepada sesuatu "Yang Gaib" dimintakan ijin terlebih dahulu kepada "Yang Maha Gaib", atau dapat juga disimpulkan bahwa atas kehendak yang Maha Gaib maka Yang Gaib itu bisa diperintahkan. Istilah "Nu Gaib" disini tentunya menimbulkan pertanyaan, Nu Gaib anu mana ?. Mungkin alangkah lebih bijaknya jika mendefinisikan jangjawokan dengan cara menggunakan paradigma dari para penggunanya, yakni masyarakat Sunda Buhun. Dalam paradigma masyarakat Sunda Buhun, terutama ketika mengkaji dan menemukan sejarah diri akan terungkap ada tiga unsur yang menyebabkan manusa hirup jeung hurip, yakni unsur lahir (raga) ; bathin (hidup) dan kuring (aku). Kuring atau aku bertindak sebagai driver bagi lahir dan bathin, bagi raga jeung hirupna. Aku pula yang memanaje raga dan bathin. Dari paradigma tersebut tentunya dapat disimpulkan, bahwa nu gaib itu bukan sesosok makhluk yang ada diluar dirinya, melainkan nu ngancik dina dirina. Pemberi perintah Dalam jangjawokan, si pengguna bertindak sebagai pemberi perintah bathin, paling tidak sebagai pihak yang 'menginginkan' sesuatu. Oleh para sastrawan diposisikan sebagai pihak yang lebih kuat terhadap penerima perintah. Misalnya : Nu ngariung jiga lutung Nu ngarendeng jiga monyet Nya aing mandahna .............. kakeureut ka sieup ku pohaci awaking Atau : Curuk aing curuk angkuh Bisa ngangkuh putra ratu ...... mangka reret soreang soreang ka badan awaking Sipemberi perintah tidak selamanya memposisikan diri yg lbh kuat

POSTING BERKAITAN




Template design by:
m-template | Home

4 komentar:

Megi Rahman mengatakan...

lapor gan, link ente dah nancep di friend link ane :D

SAUNG SUNDA mengatakan...

Trimakasih kang,Uda saya pasang juga link nya

Jiox mengatakan...

hmm, budaya nusantara memang luar biasa, sampurasun lurr :), makasih sharenya sobat :)

Megi Rahman mengatakan...

met pagi & met beraktivitas :))

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Paling Populer

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Bahasa: id I En I Ru I Sun